Antivirus Dianggap Tak Lagi Ampuh, Indonesia Kian Terancam Malware
News Flash - Indonesia semakin rentan terhadap malware, menyusul semakin pesatnya pertumbuhan bisnis di berbagai sektor. Serangan siber tersebut menjadi ancaman yang siap meretas dan mencuri data-data penting target sasarannya, kendati perangkatnya telah memanfaatkan antivirus.
Saat ini, masih banyak orang yang merasa bahwa pemanfaatan antivirus sudah cukup untuk melindungi perangkat. Padahal anggapan tersebut sudah tidak berlaku lagi, mengingat malware disebarkan melalui banyak sektor.
“Apa yang kita butuhkan saat ini adalah solusi tepat yang tidak hanya dapat menghapuskan virus biasa, namun juga ampuh mengatasi serangan malware paling canggih,” ujar Direktur Regional Asia Tenggara Check Point Evan Dumas, dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/9/2019).
Malware sendiri, kata Dimas, sebenarnya diciptakan dengan berbagai intensi dan berkembang pesat seiring dengan bisnis malware yang semakin menguntungkan. Hanya saja, hal tersebut banyak digunakan untuk tujuan kriminal, seperti menyerang insitusi pemerintahan, perusahaan swasta, bahkan perorangan.
“Apapun yang Anda gunakan dapat menjadi sasaran mereka, baik saat melakukan perdagangan saham atau ketika memegang peranan penting dalam lembaga pemerintahan. Kita bicara soal data, khususnya data penting," kata Dumas.
Berdasarkan laporan Cyber Attack Trends: 2019 Mid Year Report, terdapat lima jenis malware yang berpotensi berkembang di Tanah Air, di antaranya ransomware 11 persen, perbankan 30 persen, seluler 34 persen, cryptominers 48 persen, dan botnet 42 persen.
Laporan tersebut juga mengungkapkan baik ponsel, media penyimpanan data ataupun on-premise, tidak ada yang kebal terhadap serangan malware. Menurut Dumas, sektor manapun yang melakukan transaksi atau terdapat penyebaran uang dapat dipastikan memiliki ancaman malware.
“Termasuk platform e-commerce. Para sindikat penjahat siber malware akan berusaha mengakses data," tegas Dumas.
Dumas menambah saat ini bahaya serangan malware meningkat sekitar 50 persen sejak 2018. Pertumbuhan tersebut harus menjadi menjadi fokus perhatian dengan menyiapkan strategi keamanan siber yang mampu melawan ancaman tersebut.
Sumber : Akurat.co

Komentar
Posting Komentar